28 Desember 2009

Malam Rabu, Malamnya Para Guy

Hari Rabu merupakan hari yang paling menyenangkan bagi para guy di club malam. Larut malam Jogja serasa panjang bagi para clubbers yang sedang menikmati alunan music Dj. Setiap Rabu, salah satu club malam di Jogja mengadakan perkumpulan para guy tepatnya di Club. malam untuk berkumpul bersama sambil memadu kasih layaknya orang berpacaran.

Aktifitas remaja Jogja di malam hari mulailah terlihat, salah satunya aksi para clubbers mania in Jogja. Pada malam hari club malam di Jogja mulailah terpenuhi anak muda baik berasal dari luar Jogja maupun asli Jogja. Rata-rata para clubbers memiliki tujuan yang sama yaitu ingin lebih mendapatkan banyak teman dan mendapatkan rasa have fun dari alunan music Dj maupun asap rokok. Tidak dipungkiri alkhohol juga turut menemani aksi clubbers mania. “Clubbers tanpa minum?’wah kurang afdol rasanya, bagai sayur tanpa garam”,Kalimat tersebut terucap dari Bima,salah satu clubbers mania saat ngobrol dengan kami.
Dari beberapa hal ada sesuatu yang menarik bila disimak. Saat ini di Jogja mulai menyediakan tempat clubbing yang pada hari tertentu, acara tertentu, tema tertentu mengadakan acara kumpulnya para “Guy” di Jogja untuk clubbing bersama. Dengan kata lain tempat clubbing tersebut pada hari tertentu mayoritas berisikan para Guy. Menurut Mr. X, sebagai salah satu mahasiswa perguruan tinggi swasta terbesar di Yogyakarta yang pada saat itu mau berbagi cerita, mengatakan aktifitas mereka sama halnya dengan clubbers yang lain. Perbedaannya hanya pada tema acaranya, pada malam Guy ini hanya mengkhususkan untuk kaum Guy dan tidak terlalu terbuka. Mr. X mengatakan bila sudah di dalam cafe lampu tidak begitu terlihat dengan jelas. Maka pasangan Guy mulai menunjukkan aksi mereka seperti berpelukan, menari, bercumbu sama halnya dengan orang berpacaran
Ironisnya sebutan kota pelajar mulai luntur seiiring berjalannya waktu. Saat ini lebih dapat dikatakan “Jogja Kota Malam bagi Kawula Muda. Perspektif itu yang dikatakan Ibu Kos selaku pengelola asrama putri di Jogja. Menurut beliau saat ini jaman sudah “edan”, kultur yang dimiliki Jogja mulailah luntur. “Dengan terbukti banyaknya gadis Jogja yang enggan lagi berbusana rapet dan lebih menggumbar udel”, Ujar Ibu Sri selaku Ibu Kos. Life style tersebut sebenarnya sebuah pilihan bagi mereka. Semua itu kembali lagi ke individu masing-masing , sesuai dengan perspektif dan keyakinan yang dimiliki setiap orang. Namun bagaimana keadaan kota pelajar nantinya kita harus tetap dapat menjaga kultur dan tetap menjadikan kota pelajar adalah kotanya para pelajar untuk menuntut ilmu.

Penulis : Setiawan Yogie H(153070183)
Pewawancara : Setiawan yogie, Fenti Diana, Rezza

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar